Jumat, 05 Februari 2016

PENDIDIKAN SEX UNTUK REMAJA

Berbicara masalah seputar sex rasanya tidak akan pernah ada habisnya. namun itulah kenyataannya masalah tentang seks tidak akan ada yang bisa mencegahnya.Pendidikan seks sebenarnya sudah dikenal dari sejak kita dilahirkan kedunia ini, baik yang lahir itu laki-laki atau perempuan dan akan terus mengalami perkembangan seksualnya secara fisik dari anak-anak sampai memasuki usia remaja yang dipengaruhi oleh hormon seks (laki-laki dan perempuan). Dan dengan bertambahnya usia perkembangan fisioseksual (biologis dan fisiologis) di ikuti pula dengan perkembangan psikoseksual. Kedua perkembangan itu harus berjalan dengan seimbang karena hal itu akan mempengaruhi kehidupan seksualnya ketika memasuki gerbang perkawinan.

TAHAPAN PERKEMBANGAN SEKS ANAK
Menurut Sigmund freud tahapan Psikoseksual terbagi dalam 4 fase yaitu:
  • FASE ORAL yaitu fase seorang anak mendapatkan perasaan nikmat melalui mulutnya, yaitu ketika sedang menyusu. Fase ini dimulai dari umur 1-2 tahun, pada usia ini sang anak antusias untuk memasukan apa saja kedalam mulutnya.
  • FASE ANAL yaitu fase perasaan seorang anak dari mulut sampai ke daerah anus sekitarnya ( seperti saluran kencing) ,rasa nikmat dan puas yang didapat ketika anak menhan kencing dan buang air besar. Fase ini antara umur 2-4 tahun.
  • FASE PHALLUS yaitu perubahan yang dirasakan turun ke bagian alat kelamin. fase ini diantara umur 4-6 tahun. Rasa nikmat yang dapat dirasakan ketika melakukan sentuhan dan rabaan.
  • FASE LATEN yaitu fase yang dapat dirasakan pada usia sekolah, fase dapat dibagi menjadi 2 bagian
         fase awal: pada bagian ini anak tidak lagi memperhatikan kenikmatan yang pernah dirasakan paa alat kelaminnya, bahkan cenderung seperti melupakan kejadian tersebut.
         fase akhir: begitu memasuki bagian akhir dari masa laten, seorang anak mulai menunjukan kembali kenikmatan yang dapat dirasakan melalui alat kelaminnya. karena saat memasuki fase ini anak sudah beranjak dewasa. Dorongan seksual telah timbul, perasaan cinta, dan ketertarikan pada lawan jenis.
Walaupun orang tua tidak sepenuhnya memberikan pendidikan seks yang jelas dan benar kepada anak-anak secara sengaja atau tidak sengaja seorang anak telah mengawali tahap kehidupan seksualnya sendiri, yang didapat melalui permainan, pertanyaan dan dari lingkungan sekitarnya. pertanyaan pertama yang biasanya kenapa tubuh pria dan wanita berbeda, pasti mereka akan bertanya kepada orangtuanya. Dalam hal ini orangtua harus peka terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti  itu. pada tahap ini biasanya anak lebih merisaukan keadaan tubuhnya daripada rasa keingintahuannya . Bisa saja si anak pikirkan orangtuanya tidak sayang kepadanya karena bentuk tubuhnya tidak seperti kakaknya. Karena anak sering melihat ketelanjangan anggota keluarga atau teman-temannya. Sebaiknya anak dihindari dari ketelanjangan orangtuanya. Karena hubungan anak dan orangtua dilandasi rasa kagum dan rasa hormat yang tinggi. Jadi jika anak sering melihat ketelanjangan tersebut tentunya suatu saat rasa hormat dan kagum terhadap orang tua kan hilang. 
Para orangtua terkadang menganggap ringan masalah pendidikan seks. Mereka lebih mempercayai lembaga sekolah dan institusi yang terkait untuk menyampaikan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Padahal pendidikan seks yang diberikan sekolah hanya bertujuan mendukung upaya orangtua dalam membimbing anak-anak mereka tentang seksualitas. Program yang ditawarkan hanya sekedar informasi, mengajukan pertanyaan, mengadakan diskusi dan cara pengambilan keputusan. Jadi pada kenyataannya komunikasi yang baik dan terbuka antara orangtua dan anaknya yang sangat efektif untuk mengatasi persoalan ini. BERARTI INTINYA ADALAH ORANGTUA HARUS BERSIKAP TERBUKA DAN SELALU SIAP DALAM MENJAWAB SEMUA PERTANYAAN YANG DIAJUKAN ANAK SESUAI DENGAN KEMAMPUANNYA.

Pada saat sesama orangtua saling memperdebatkan penting tidaknya membicarakan masalah seks kepada anak-anaknya, sudah banyak dibahas tentang masalah seks yang membahas tentang masalah seksual bagi kaum remaja dari masalah virginitas, pengalaman mimpi basah, hingga penyakit kelamin. Dengan melihat begitu besar perhatian seseorang terhadap kebutuhan seksualnya, berarti masyarakat kita mulai sadar dengan pentingnya mendapatkan pengetahuan seks secara jelas dan terbuka. Jadi sebenarnya pendidikan seks ini tidak terbatas jangkauannya, dari usia anak-anak,remaja, sampai orang tua. disinilah diperlukan peran orang tua untuk menyikapi persoalan-persoalan yang ada dengan lebih terbuka.
Anggapan orang tua membicarakan seks pada anaknya adalah hal yang tabu harus dihilangkan, karena hal semacam inilah yang  membuat menghambat penyampaian pengetahuan tentang seks. Karena orang tua merasa khawatir jika anak mengetahui tentang seks terlalu banyak maka sang anak tersebut akan penasaran dan berani mempratikan seks secara bebas. Pendidikan seks disini  dapat membantu para remaja laki-laki dan perempuan untuk mengetahui resiko dari sikap seksual mereka dan mengajarkan pengambilan keputusan seksualnya secara dewasa, sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang tua.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar